Jumat, 05 Oktober 2012

Haram Kirim TKW ke Luar Negeri

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mendesak  Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera mengeluarkan fatwa tegas yang melarang pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) untuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT) di luar negeri.
Ia juga meminta seluruh ulama di Indonesia menyerukan kepada masyarakat agar tidak memberangkatkan tenaga kerja wanita.
Hasyim mengatakan, dalam Muktamar Liga Islam Dunia yang digelar di Mekkah pada 2-7 Agustus 2010 lalu, dia banyak menerima protes dari para mufti tentang pengiriman TKW untuk pembantu rumah tangga.
“Mereka mempersoalkan bukankah pengiriman wanita tanpa muhrim ke tempat jauh hukumnya haram secara syariat? Bukankah pengiriman itu merendahkan Islam dan Indonesia sendiri?” ucapnya.
Mantan Ketua Umum PBNU itu juga mengatakan, bahkan saat itu para ulama mempertanyakan bagaimana sesungguhnya pendapat para ulama Indonesia tentang pengiriman TKW menjadi PRT, karena menurut ulama-ulama saat itu banyak negara yang lebih miskin dari Indonesia namun tidak mengirim TKW.
“Tidak tahukan Indonesia bahwa tidak ada negara Islam semiskin apa pun yang mengirim TKW PRT ke Saudi?” ujar Hasyim menirukan pertanyaan ulama saat itu.
MUI sendiri  pernah mengeluarkan fatwa pengiriman TKW ke luar negeri. Menyusul banyaknya kasus kekerasan yang dialami TKW, MUI mempertimbangkan untuk mengeluarkan fatwa haram mutlak.
“Kami akan membahas kembali soal ini (TKW), karena belakangan ada heboh marak kekerasan pada TKW. Kami sudah mengeluarkan keputusan pada 2000 itu, tapi kalau fatwa haram memang belum. Tapi akan kita bahas,” ujar Ketua MUI Ma’ruf Amin, Senin (27/6).
Saat itu, fatwa haram yang dikeluarkan MUI masih belum mutlak alias baru pada sebagian kondisi saja. Hal itu dikarenakan ada kemungkinan tidak terpeliharanya TKW yang dikirimkan dan tidak adanya jaminan perlindungan keamanan TKW.
“Kalau sekarang ternyata tidak ada jaminan perlindungan keamanan bagi TKI tentu akan kami bahas lagi,” sambung Ma’ruf.
Pada Musyawarah Nasional VI MUI yang digelar di Jakarta pada 29 Juli 2000. MUI mengeluarkan fatwa Nomor 7/MUNAS VI/MUI/2000 tentang Pengiriman TKW ke Luar Negeri. Ada beberapa poin dalam fatwa tersebut.
MUI menilai, pada prinsipnya perempuan boleh meninggalkan keluarga untuk bekerja ke luar kota atau luar negeri. Kondisi itu menjadi haram jika tidak disertai mahram (keluarga) atau niswah tsigah (kelompok perempuan yang dipercaya), kecuali dalam keadaan darurat yang bisa dipertanggungjawabkan secara syar’i, dan dapat menjamin keamanan dan kehormatan TKW.
Selain itu, hukum haram berlaku pula pada pihak-pihak, lembaga atau perorangan, yang mengirimkan atau terlibat dengan pengiriman TKW. Demikian pula yang menerimanya.
Dalam poin selanjutnya, para ulama yang tergabung dalam Komisi Fatwa MUI mewajibkan kepada pemerintah, lembaga, dan pihak yang terlibat dalam pengiriman TKW untuk menjamin dan melindungi keamanan dan kehormatan TKW selama bekerja di luar negeri

 Sumber :  http://ddhongkong.org/mui-pertimbangkan-keluarkan-fatwa-haram-mutlak-kirim-tkw-ke-luar-negeri/

Nasehat Imam Al Ghazali

Nasehat Imam Al Ghazali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". 
Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. 
Tapi yang paling benar adalah "Masa Lalu". Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.


Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". 
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali.
 Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu".
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi”.
(Al A'Raf 179). 
Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Iimam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya. 
Memegang amanah itu berat, dan siapa yang berkhianat dan tidak memegang amanah, ialah orang munafik.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?"
.Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "Meninggalkan Sholat". Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". 
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "Lidah Manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

arti cinta

 Apakah arti cinta menurut anda ? 



Mungkin ini adalah sebuah pertanyaan yang konyol dan tidak perlu dijawab. Namun, mengapa kebanyakan dari cinta berakhir dengan dosa, bahkan kita sering melakukan tindakan yang diluar nilai-nilai luhur agama, yang mana tindakan tersebut hanya bisa mengumbar nafsu dunia.
Sungguh kepala salah satu diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik baginya dari pada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya (HR. Bihaqi, Thabrani dan Muslim)
Secara tidak sadar, kita melakukannya setiap hari dan berulang-ulang. Lalu kapankah kita akan menebusnya ?
Marilah kita bangkit dari keterpurukan dan membuka lembaran cerita baru yang lebih bermanfaat. Jangan sampai kita terjerumus kembali sehingga kita tidak bisa melihat indahnya ampunan. Apakah kita masih ingin terus larut didalam lautan dosa, setelah kita mengetahui apa yang kita lakukan adalah salah. Apakah kita siap dengan azab-Nya yang pedih di dunia dan di akhirat.
Sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa namun mau bertobat (HR. Ahmad)
Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa didalam menjalani kehidupan ini, kita membutuhkan cinta. Namun cinta yang sejati adalah sebuah rasa yang berdasarkan kaidah syar'i, yang mana rasa tersebut dapat menebus dosa dan dapat membawa kita lebih dekat kepada cinta-Nya yang suci dan mulia.
Paling kuat tali hubungan keimanan ialah cinta karena Allah dan benci karena Allah (HR. Thabrani)
Sesungguhnya bagi Allah SWT ada hamba-hamba yang dihari kiamat dipersiapkan mimbar untuk mereka, mimbar-mimbar tersebut diduduki untuk mereka atau suatu kaum yang berpakaian dari cahaya dan wajah merekapun bercahaya, mereka bukan para nabi ataupun orang-orang yang mati syahit, malah para nabi dan para syuhadapun sangat mendambakannya atau iri kepada mereka. Lalu para sahabat bertanya : "Siapakah mereka itu ya rosul ?". Jawab beliau SAW : "Merekalah orang-orang yang saling mencintai dan menyayangi semata karena Allah dan saling duduk atau bergaul juga semata karena Allah SWT". (HR. Thabrani)
Apakah kita tidak ingin menempati derajat yang tinggi ataukah kita memilih dicintai oleh iblis, yang hanya bisa membawa kita kedalam kesengsaraan dan kebinasaan.
Cinta itu suci dan pasti akan mensucikan bagi hati yang percaya kepada kesucian cinta. Namun apabila hati kita dipenuhi oleh nafsu, maka kita hanya akan semakin terjerumus kedalam liang dosa. Oleh kaerena itu, marilah kita jalankan cinta dan nafsu kita secara syar'i.
Lalu mengapa, didalam kita menjalankan kehidupan ini kita masih sering menilai orang baik fisik, ucapan dan tindakannya. Tanpa kita sadari kita selalu dinilai oleh orang lain akan fisik, ucapan dan tindakan kita. Kita tidak pernah mengoreksi diri kita sendiri sebelum kita mngoreksi orang lain. Kadang kita menilainya buruk atau baik karena kita terlalu benci atau sayang padanya, semuanya kita anggap baik baik atau buruk tanpa menerima koreksi dari orang lain.
Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terang-terangan kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu mengatakan sesuatu kebaikan dan menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain) maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. (an-Nisaa 148-149)
Kita sering marah ketika kita mendapat tanggapan akan sifat, ucapan dan tindakan kita, tanpa kita sadari yang kita anggap baik malah menyengsarakan orang lain. Kita seharusnya berbesar hati karena kita masih diperhatikan dan masih diberi petunjuk oleh Allah, alangkah baiknya jika kita mengucapkan terima kasih atas koreksi yang mereka nyatakan.
Yang paling bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai berterima kasih kepada manusia (HR. Ath Thabrani)
Marilah kita mencoba untuk mengatakan sesuatu yang baik, karena orang akan dihargai dengan baik ucapan, sikap dan kehalusan budinya. Janganlah kita berharap akan kebaikan yang kita tanam kepada mereka tapi kita cukup berserah diri kepada Allah SWT agar kita senantiasa ikhlasakan segala yang kita lakukan itu, adalah sebuah kewajiban sebagai seorang muslim.
Tiada kebahagiaan yang bisa mengantikan keindahan dari rasa ikhlas dan rasa syukur, karena ini berhubungan dengan hati, dan hati kita ini yang pertama mendapat petunjuk dari Allah SWT. Sehingga pantaslah kita selalu berfikir daan merasa bahwa semua yang terjadi adalah kehendak-Nya yang pasti banyak manfaat daripada keburukannya.
Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (an-Nisaa 19)
Marilah kita menata diri kita dari hal-hal yang kecil karena orang jatuh atau terluka karena persoalan kecil alangkah bodohnya kita yang selalu membuat kesalahan-kesalahan kecil tanpa langsung memperbaikinya dan kita sering meremehkannya.
Hai Ali! Jangan suatu pandangan (kepada perempuan) dengan pandangan yang lain karena yang pertama adalah bagimu (hakmu) sedang yang kedua bukan lagi hakmu (Tarmidzi)
Awal dari segala dosa adalah pandangan. Kebanyakan dari kita ketika sesuatu, kita sering memuji dan menghina mereka mereka dan sedikit yang memuji dan mengagumi karena itu semua adalah kehendak Allah SWT. Seharusnya kita berfikir didalam semua itu terdapat tanda-tanda dari kebesaran-Nya. Namun kita cenderung sering menghina akan bentuk fisik seseorang. Padahal orang tersebut tidak pernah meminta diciptakan demikian. Alangkah bodohnya kita yang menghina kehendak Allah SWT. Dan mungkin orang yang kita hina lebih mulia dan mempunyai kedudukan dan derajat yang lebih tinggi daripada kita disisi-Nya.
Marilah kita mengoreksi diri kita, apakah amal kita lebih baik daripada fisik kita. Janganlah kita banggakan apa yang ada pada kebagusan fisik kita, jika Allah berkehendak Dia bisa mengubahnya dalam hitungan detik bahkan lebih cepat daripada itu. Namun jadikanlah itu sebagai sarana mendekatkan diri kita kepada-Nya dengan mengucapkan syukur dari lisan dan batin serta mintalah pertolongan-Nya agar kita terhindar dari pandangan-pandangan yang membuat dosa.
Bukankah dalam neraka jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri (Az-Zumar 60)
Sesungguhnya Allah memerintahkan uantuk bertawadu, sehingga tak ada seorang pun yang membanggakan dirinya kepada orang lain.
Tiada kebahagiaan yang bisa melebihi nikmat bersyukur. Alangkah damainya kita yang selalu merasa semua ini milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kita hanyalah seorang musyafir yang berteduh dibawah pohon dan akan pergi bila tenagsa kita t'lah pulih.
Maka apakah yang akan kita banggakan didunia ini, karena semuanya akan binasa. Tak ada yang abadi didunia ini semuanya akan musnah lalu apakah kita tak rindu dengan kehidupan akhirat yang abadi dan menjanjikan segala kenikmatan yang takkan pernah habis dan musnah.
Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan dimuka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa (Al-Qasas 83)

Kewalian Gus Dur

 
 
 
 
 

GUS DUR WALI

“Kewalian” Gus Dur Dibedah di Ajang Munas






Ketika Jalaluddin Rumi meninggal, kucing di rumahnya terlihat sedih berhari-hari, dan lalu meninggal pula. Ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat, juga demikian, beberapa hari kemudian kucing di rumahnya meninggal, kata Kiai Husein Muhammad.

Dalam acara bedah bukunya yang berjudul “Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur” yang diselenggarakan Intelektual Muhajirin NU (IMNU) Cirebon, di Yayasan Khatulistiwa Kempek, Ahad (16/9), ia membandingkan Gus Dur dengan Jalaluddin Rumi.

Kiai Husein mengatakan, situasi yang sosial politik yang melingkupi saat wafatnya wali besar Jalaluddin Rumi, dimana waktu itu banyak konflik, dimana keragaman terus diperjuangkan, tetapi konflik sosial juga sangat rawan. Ini sama persis dengan situasi sosial politik di saat Gus Dur wafat.

Pernyataan Kiai Husein ini dilontarkannya untuk menegaskan bahwa apa yang dilakukan Gus Dur selama ini memiliki dasar yang kuat dalam Islam, khususnya spiritualitas Islam.

“Buku Sang Zahid ini, sesungguhnya hasil refleksi saya atas kebersamaan saya dengan Gus Dur sejak 1997. Saat itu beliau mulai sakit-sakitan, stroke, saya paling tidak waktu itu dua kali sekali dalam sebulan berkunjung ke rumah beliau. Saya menyaksikan sendiri bagaimana Gus Dur berperilaku setiap hari,” demikian jelas Kiai Husein.

“Gus Dur bukanlah budayawan, bukan seorang pembela HAM, bukan pembela minoritas, bukan politikus, bukan pemikir Islam dan bukan ulama, tetapi Gus Dur adalah menjadi semuanya itu. Gus Dur selama ini banyak bergerak di berbagai bidang, dan memiliki effek bagi orang banyak. Apakah yang melandasi semua gerakan itu. Yang menggerakkannya adalah spiritualitas Gus Dur, yang memiliki rujukan pada spritualitas Islam (tasawuf),” katanya.

Gus Dur sering dianggap aneh, dan ucapannya baru dianggap benar, karena ternyata di kemudian hari ucapan Gus Dur malah terbukti. Hal ini sesuai dengan spiritualitas Ibnu Athaillah Sakandari dalam kita Hikamnya yang mengatakan bahwa bagi orang-orang suci yang dekat dengan Allah, kata-katanya bisa mendahului zamannya. Ini bukan sesuatu yang aneh menurutnya, karena sering juga dialami oleh para Wali Allah. Demikianlah Kiai Husein, secara panjang lebar menjelaskan tentang sisi-sisi kewalian Gus Dur.

Sementara itu pembanding, rektor IAIN Syeikh Nurdjati Cirebon, Prof Dr Maksum Mochtar, menyampaikan, tidak cukup untuk hanya mengagumi Gus Dur. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa seperti Gus Dur.

“Dan ini bisa saja, melalui pendidikan dengan basis penguatan neurosains mungkin saja kecerdasan kita bisa meningkat sebagaiman Gus Dur. Kita jangan lihat Gus Dur sekarang, tetapi lihatlah prosesnya menjadi sebesar itu.”

Pembanding lainnya, rektor ISIF, Prof Dr Chozin Nashuha, mengusulkan adanya pemetaan posisi Gus Dur di antara sufi-sufi besar yang ada.

“Mari kita lihat, bila dibanding dengan tokoh-tokoh sufi yang ada, maka Gus Dur itu adalah salah satu produsen pemikiran-pemikiran tasawuf, atau agen penyalur saja, ata bahkan hanya konsumen saja?” katanya, seraya melempar pertanyaan ke forum.


Sumber : Gus Dur

LEBARAN

LEBARAN



Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.

Dari pernyataan Nabi Muhammad SAW tersebut, kita menjadi tahu betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Sering sekali kita menyaksikan orang yang mengaku umatnya Nabi Muhammad SAW seperti sangat mengandalkan amal ibadahnya bagi keselamatan dan kebahagiaannya di akhirat kelak. Orang ini begitu yakin akan selamat dari neraka dan akan masuk ke sorga karena dia merasa sudah melaksanakan sembahyang, puasa, zakat, dan haji. Bahkan sering kita melihat orang yang seperti itu kemudian memandang sebelah mata kepada orang lain yang dinilainya tidak setekun dia dalam beribadah.

Sedemikian yakinnya orang yang mengandalkan amal ibadah ritualnya itu, sehingga acap kali tidak menghiraukan orang lain dan tidak merasa perlu menjaga hubungan baik dengan sesama. Maka kita menyaksikan setiap hari seorang muslim dengan ringan melecehkan sesama saudaranya. Maka kita menyaksikan seorang haji –bahkan hampir setiap tahun naik haji—yang memperlakukan buruh-buruhnya secara tidak manusiawi. Menyaksikan orang yang rajin puasa tapi sekaligus rajin memakan harta rakyat. Kita menyaksikan orang yang rajin sembahyang sekaligus rajin merampas hak orang lain. Kita menyaksikan ustadz yang rajin mengkhotbahi orang dan sekaligus memprovokasi untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap sesama. Menyaksikan kelompok orang beragama tanpa merasa bersalah melakukan tindakan sewenang-wenang kepada hamba-hamba Allah karena merasa lebih benar dan lebih dekat kepadaNya. Dan seterusnya dan sebagainya.

Melihat sabda Nabi Muhammad SAW di atas, nyatalah bahwa meskipun orang pulang ke alam baka dengan membawa bekal banyak berupa ibadah-ibadah ritual, bisa bangkrut bila tidak menjaga hubungannya dengan sesama. Ketika di dunia banyak menyakiti dan merampas hak orang.

Maka sungguh bijaksana leluhur kita yang mentradisikan adanya halal-bi-halal setelah ritual puasa Ramadan. Dengan puasa dan salat malam di bulan Ramadan, diharapkan dosa-dosa yang langsung terhadap Allah, telah diampuni sesuai sabda Rasulullah SAW, “Man shaama Ramadhaana iimaanan waihtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi.”, Barangsiapa puasa Ramadan karena iman dan mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah. “Man qaama Ramadhaana…” Barangsiapa mendirikan ibadah di bulan Ramadan karena iman dan mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah.

Setelah itu untuk menyempurnakan kefitrian kita sebagai manusia, ditradisikanlah saling bersilaturahmi dengan tujuan utama untuk saling memaafkan dan saling menghalalkan. Halal-bi-halal. Jangan sampai kesalahan-kesalahan terhadap sesama manusia kelak menjadi ganjalan dan menyita modal amal baik kita. Dengan demikian kita benar-benar lebaran, lepas dari ganjalan-ganjalan dan terbebaskan dari dosa-dosa baik yang langsung terhadap Tuhan maupun yang terhadap sesama hamba.

Sayangnya, di zaman modern ini, tradisi mulia lebaran dan halal-bi-halal tersebut sudah semakin terkikis maknanya. Upacara ‘mudik’ yang terus berlangsung pun, umumnya lebih merupakan ritual kangen-kangenan antar kerabat sendiri. Tradisi ‘open house’ juga lebih merupakan kunjungan silaturahmi seremonial bawahan kepada atasan. Tidak ada atau sudah jarang ada silaturahmi seperti dulu yang secara khusus berniat melebur kesalahan dan mencari kehalalan tanggungan yang terlanjur diperbuat terhadap sesama.

Rabu, 03 Oktober 2012

Istighotsah

Makna Istighotsah


ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۗ أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ (٢٨
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.




 Ma’asiral Muslimin,  Jama’ah Jumat rahimakumullah
Alhamdulillah, kita panjatkan puja dan puji, kehadirat Illahi Rabbi. Allah Yang Maha Pemurah,yang telah memberikan nikmat begitu melimpah, antara lain nikmat hidayah dan inayah, sehingga kita masih bisa duduk di atas sajadah, untuk  muroqobah, untuk muhasabah, untuk beribadah, melaksanakan sholat Jum’at berjamaah . Mudah-mudahan dengan  ibadah sholat jumat berjamaah di sekolah  menjadikan hati kita semakin sakinah, jiwa kita jiwa kita semakin mutmainah, ibadah kita semakin istiqomah, tingkah laku  kita semakin makin terarah, fidunya hasanah wa filakhirati hasanah.
Sholawat dan salam, marilah kita sampaikan kepada junjunan kita, idola kita, panutan kita, teladan kita, imam kita, Nabi besar Muhammad SAW, yang telah menaburkan rahmat, menyempurnakan nikmat, menyelamatkan umat dan yang akan memberikan safaat nanti di akhirat, khususnya bagi umatnya yang rajin membaca sholawat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita kepada Allah, taqwa yang sebenar-benarnya . Taqwa yang tidak hanya diucapkandengan lisan. Tapi diwujudkan dengan amal perbuatan. Taqwa yang tidak hanya di bibir saja , tapi taqwa yang menyatukan satunya kata dengan praktika, satunya lisan dengan perbuatan, satunya dawah dengan lampah, satunya ucap dengan sikap, satunya teori dengan manifestasi.
Taqwa yang melahirkan kedisiplinan dalam menjalankan ketaatan, kepatuhan, kepasrahan dan ketundukan hanya kepada Allah.
Taqwa yang melahirkan kesadaran untuk menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dengan taqwa, segala urusan kita dimudahkan, dengan taqwa rizki kita dilapangkan , dengan taqwa dosa kita dileburkan, dengan taqwa hidup kita akan bahagia, dengan taqwa kita akan dijamin masuk surga, dengan taqwa harkat, derajat dan martabat kita semakin mulia.
 إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ
‘Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa (QS Al-Hujurat (49) : 13 )
 
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Tadi pagi kita semua (khususnya kelas IX) telah melaksanakan kegiatan  ‘istighotsah’ dengan khusu, syahdu dan tawadlu dalam rangka menghadapi Ujian Nasinal yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 April 2012. Marilah kita doakan bersama :mudah – mudahan kegiatan ‘istighotsah’ tersebut membawa berkah dan maghfirah, antara lain diberi ketenangan dan kelapangan dalam mengahadapi UN, diberi kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan soal UN dan diberi kelulusan dan kesuksesan dalam perolehan hasil nilai UN, yakni lulus 100 persen, Amiin ..

Apakah istighotsah itu ?
Itighotsah” dalam bahasa Arab berarti “meminta pertolongan”. Istilah istighotsah terdapat dalam wiridan para anggota jama’ah thoriqoh (atau biasa dilafadkan dalam bahasa Indonesia menjadi tarekat) yang berbunyi: “Ya Hayyu ya Qoyyum birohmatika astaghits..!” Ya Allah Yang Maha hidup dan Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rakhmat-Mu aku memohon pertolongan-Mu ..!
Di Indonesia istighotsah diartikan sebagai ”dzikir atau wiridan” yang dilakukan secara bersama-sama dan biasanya di tempat-tempat terbuka untuk mendapatkan petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Sementara doa-doa yang diucapkan pada saat istighotsah adalah doa-doa atau bacaan yang khas diamalkan dalam jama’ah thoriqoh, meski kadang ada beberapa penambahan doa.
Pertama-tama para jama’ah istighotsah membaca surat pertama dalam Al-Qur’an yakni Al-Fatihah sebagai pembuka segala kegiatan yang baik. Selanjutnya jama’ah membaca doa-doa berikut:
1. Istighfar (astagfirullahal adzim) meminta ampun kepada Allah
Astagfirullahal adzim ( saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung )
2. Hauqolah (la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim) meminta kekuatan kepada Allah
La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim ( tiada daya untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pemeliharaan Allah dan tiada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah )
3. Sholawat atau doa untuk Nabi Muhammad SAW dan keluarganya
Allahuma sholli ala syayyidina Muhammad wa ala ali syayyidina Muhammad    ( Ya Allah limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada junjunan kami nabi Muhammad beserta keluarganya )
4. Lafadz tahlil panjang yang berbunyi “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin” sebagai pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa hamba yang sedang berdoa telah melakukan perbuatan dzolim.
5. Memuji asma Allah dengan lafadz “Ya Allah ya Qodim, ya Sami’u ya Basyir, ya Mubdi’u ya Kholiq, ya Hafidz ya Nasir ya Wakilu ya Allah, ya Lathif
(Ya Allah, Engkaulah Dzat yang ada tanpa permulaan, Yang Maha mendengar dan Maha Melihat, Yang Maha mewujudkan sesuatu dari tidak ada, Yang Maha Pencipta, Yang Maha Menjaga, yang Maha Penolong, Maha Memelihara dan Yang Maha Lembut)
6. Kemudian bacaan istighotsah “Ya Hayyu ya Qoyyum birohmatika astaghits
Ya Allah, engkaulah Yang Maha hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rakhmat-Mu aku memohon pertolongan-Mu ..!
Jumlah bacaan bisa bermacam-macam antara 1, 3, 7, 33, 100, atau 1000 tergantung sang pemimpin jama’ah istigotsah. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca surat Yasin dan dilanjutkan dengan tahlil untuk mendoakan para orang tua, guru, sesepuh, anak, dan saudara yang telah menghadap Sang Kholiq.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kegiatan istighotsah merupakan salah satu usaha ’bathiniyah’ dengan cara berdzikir, mengingat dan menyebut nama Allah serta berdoa bersama-sama, memohon petunjuk dan pertongan Allah, agar diberi ketenangan, kelapangan, kemudahan, kelancaran dan kesuksesan, setelah usaha secara ’lahiriyah’ dilakukan.
Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda , “Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Allah, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi )
Dengan istighotsah (berdzikir kepada Allah) hati kita akan tenang,  jiwa kita akan tentram, dada kita akan lapang bahkan otak kita akan cemerlang, sehinggga cita-cita akan mudah diraih dengan gemilang !
 ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۗ أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ (٢٨)
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah (dzikir). Ingatlah, hanya dengan dzikir hati menjadi tentram.”(Q.S. Ar Ra’ad:28)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kegiatan istighotsah merupakan kegitan untuk membersihkan hati dari noda dan dosa yang kita lakukan. Karena dosa ibaratnya titik hitam. Semakin banyak dosa maka semakin banyak titik hitam yang melekat pada hati, semakin gelaplah hati kita. Hati yang hitam legam, gelap gulita menyebabkan hidayah sulit untuk masuk. Ibaratnya sebuah kaca yang tiap hari kena debu, maka lama kelamaan kaca itu akan tertutupi oleh kotoran debu,  yang mengakibatkan cahaya, sinar matahari tidak akan masuk.
Imam Syafi’I semasa menjadi santri pernah mengeluh kepada gurunya, “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji dan kupelajari ini susah sekali memahaminya dan cepat sekali lupa ?” Sang Guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya, ia hanya dapat menerangi hati yang bersih, bening dan suci. Ia tidak akan dapat menerangi hati yang keruh, kotor dan banyak maksiatnya.”
Mudah-mudahan dengan kegiatan istighotsah diharapkan hati kita semakin bersih. Hati yang bersih akan melahirkan pikiran yang jernih, sehingga apa-apa yang kita cita-citakan, harapkan akan mudah di raih.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

PP.DARUL HUDA MAYAK PONOROGO

SELAYANG PANDANG PP.DARUL HUDA MAYAK TONATAN PONOROGO


SELAYANG PANDANG
Pondok Pesantren Darul Huda adalah salah satu dari sekian banyak pondok pesantren yang ada di kabupaten ponorogo. Berdiri sejak tahun 1968 dengan menggunakan metode salafiyah haditsah dengan maksud bahwa Pondok Pesantren Darul Huda melestarikan metode lama yang baik dan mengembangkan metode baru yang lebih baik.
Metode ini diterapkan di Pondok Pesantren Darul Huda dengan bentuk pendidikan formal dan non formal. Adapun Pendidikan formal meliputi: MTs (sederajat SMP), MA (sederajat SMA), dan Madrasah Diniyah (MMH). Sedangkan pendidikan non formal diselenggarakan dalam bentuk pengajian kitab-kitab kuning ala salafi.
Dengan metode tersebut, santri Pondok Pesantren Darul Huda dapat mempelajari ilmu pengetahuan agama islam secara utuh, dalam arti tidak hanya mempelajairi ilmu pengetahuan agama islam seperti syari'at, tauhid dan tasawwuf dalam rangka “Tafaqquh fi diin” tetapi juga mempelajari ilmu pengetahuan agama islam yang bersifat umum seperti fisika, kimia, biologi dan lain-lain dalam rangka ”tafakkur fi kholqillah”. Sehingga dengan metode tersebut akan membentuk santri yang mempunyai jiwa keagamaan yang teguh serta dapat hidup secara fleksibel dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di zaman yang serba modern ini.
A. PONDOK PESANTREN PUTRA PUTRI DARUL HUDA
SISTEM PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN.
  1. Penggunaan sistem klasikal dengan metode pengajaran salafi.
  2. Pembelajaran mengacu pada kitab-kitab kuning yang mu’tabaroh.
  3. Penggabungkan antara sistem salafiyah dan haditsah(modern).
  4. Sistem pendidikan memakai sistem asrama(full day study).
  5. Pendidikan melalui keteladanan dan pembiasaan akhlaq.
  6. Penggunaan sistem sorogan dan wekton.
  7. Pendidikan rohani melalui mujahadah ke makam auliya’, khotmu Al Qur’an dan lain-lain
  8. Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler, meliputi kursus seni kaligrafi(unggulan), pramuka, bahasa arab, bahasa inggris, hadroh, seni baca Al Qur’an, olah raga dan lain-lain.
  9. Pengadaan kamar khusus bahasa untuk pengembangan bahasa arab dan inggris.
Perkembangan Jumlah Santri Mukim Pondok Pesantren Darul Huda.
Tahun Pelajaran
2005/2006
2006/2007
2007/2008
2008/2009
2009/2010
Jumlah Santri
1386
1634
1723
1860
2174
B. MADRASAH MIFTAHUL HUDA (MMH)
Madrasah Miftahul Huda mempunyai jenjang pendidikan 6 tahun dilanjutkan dengan program Pasca MMH (Takhasus) dengan jenjang 2 tahun dengan kurikulum Pondok Pesantren salafiyah masuk sore hari mulai pukul 14.30WIB - 16.30WIB
Perkembangan jumlah murid Madrasah Miftahul Huda
Tahun Pelajaran
2005/2006
2006/2007
2007/2008
2008/2009
2009/2010
Jumlah Murid
1422
1346
1999
2469
2465
C. MADRASAH TSANAWIYAH DARUL HUDA (MTs)
Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darul Huda Mayak Ponorogo berstatus terakreditasi dengan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), masuk pagi hari mulai pukul 07.00 WIB – 12.40 WIB. sebagaimana program pemerintah BOS (Biaya Operasional Sekolah), siswa MTs tidak dikenai biaya SPP (bebas SPP).
Perkembangan jumlah siswa Madrasah Tsanawiyah Darul Huda
Tahun Pelajaran
2005/2006
2006/2007
2007/2008
2008/2009
2009/2010
Jumlah Siswa
809
930
1139
1275
1370
D. MADRASAH ALIYAH DARUL HUDA (MA)
Madrasah Aliyah (MA) Darul Huda Mayak Ponorogo berstatus Terakreditasi dengan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah disahkan , masuk pagi hari mulai pukul 07.00 WIB sampai 12.40 WIB.
Program Pilihan :
- Program Keagamaan
- Program Ilmu Alam ( IPA )
- Program Ilmu Sosial ( IPS )
Sejak tahun 2006 MA Darul Huda mengikutsertakan siswa berprestasi, untuk mengikuti program beasiswa S-1 Kementeriaan Agama Propinsi Jawa Timur dan bidikmisi, ke berbagai Perguruan Tinggi Umum maupun Perguruan Tinggi Agama Islam* . ( *sekarang mereka di semester IV , VIII UGM, Sunan Ampel dan ITS Surabaya )
Perkembangan jumlah siswa Madrasah Aliyah Darul Huda
Tahun Pelajaran
2005/2006
2006/2007
2007/2008
2008/2009
2009/2010
Jumlah Siswa
767
996
1132
1190
1268
PRESTASI
MTS
Juara I lomba kaligrafi tingkat jawa timur tahun 2007
Juara I dan II Telling Story Contes tingkat kabupaten ponorogo tahun 2008
Juara I dan II lomba pidato bahasa Indonesia se karesidenan madiun di UNMUH Ponorogo tahun 2009
Juara I lomba pidato bahasa Inggris se karesidenan madiun di MAN II Ponorogo tahun 2009
Juara II lomba pidato bahasa Arab se karesidenan madiun di MAN II Ponorogo tahun 2009
Juara III lomba MTQ se karesidenan madiun di MAN II Ponorogo tahun 2009
MA
Juara I cabang kaligrafi Kolase POSPENAS IV Nasional di Samarinda Kaltim tahun 2007
Juara II MTQ putri tingkat SMA se Kabupaten Ponorogo tahun 2008
Juara harapan I dan II POSPEDA cabang kaligrafi tingkat jawa timur tahun 2009
Juara II lomba madding se karesidenan madiun di STAIN ponorogo tahun 2010
Juara I lomba TTG (Teknologi Tepat Guna) se karesidenan madiun di STKIP ponorogo tahun 2010
MMH/Pondok
Juara I seleksi lomba baca kitab tingkat ulya bidang tafsir dan hadits tingkat Kabupaten Ponorogo tahun 2006
Juara II lomba kaligrafi se jawa timur, yang diselengarakan oleh Jami'iyatul Quro' Wal Huffadz Provinsi Jawa Timur tahun 2006
Juara I lomba kaligrafi cabang mushaf tingkat jawa timur tahun 2008
Juara I dan II seleksi MQK cabang Lughoh dan Akhlaq tingkat ula, wustho, ulya Departemen Agama Kabupaten Ponorogo tahun 2008
Juara I seleksi MQK cabang Fiqih tingkat ula Departemen Agama Kabupaten Ponorogo tahun 2008

Sejarah Berdirinya Pondok Gontor

Sejarah Berdirinya Pondok Gontor

Drs. H. Husnan Bey Fananie, MA. sangat terkait dengan Pondok Modern Gontor. Beliau adalah cucu dari Pendiri Pesantren ini yang didirikan pada 10 April 1926 di Ponorogo, Jawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi dan yang kemudian dikenal dengan istilah Trimurti (foto dibawah ini).
Pada masa itu pesantren ditempatkan diluar garis modernisasi, dimana para santri pesantren oleh masyarakat dianggap pintar soal agama tetapi buta akan pengetahuan umum. Trimurti kemudian menerapkan format baru dan mendirikan pondok gontor dengan mempertahankan sebagian tradisi
pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem wetonan (massal) dan sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum. Pada awalnya Pondok Gontor hanya memiliki Tarbiyatul Atfhfal (setingkat taman kanak kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu’alimat Al-Islami (KMI) yang setara dengan lulusan sekolah menengah pertama. Pada tahun 1963 pondok gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

Foto di atas adalah foto KH. Zainudin Fananie (duduk di tengah, jas hitam), Istri beliau, Hj. Rabiah (duduk di kiri), dan adik istri Beliau, Hj. Samsidar (duduk sebelah kanan), KH. Imam Zarkasyi (nomor dua berdiri dari kanan).

Pesantren Gontor dikelola oleh Badan Wakaf yang beranggotakan Tokoh-tokoh alumni pesantren dan Tokoh yang peduli Islam sebagai penentu Kebijakan Pesantren dan untuk pelaksanaannya dijalankan oleh tiga orang pengasuh (Kyai) yaitu KH. Hasan Abdullah Sahal (Putra KH Ahmad Sahal). KH Syukri Zarkasyi (putra KH.Imam Zarkasyi) dan KH. Imam Badri. Tradisi pengelolaan oleh tiga pengasuh ini melanjutkan pola
Trimurti (Pendiri).

Pada saat peristiwa Madiun tahun 1948 saat Muso telah menguasai daerah Karesidenan Madiun (Madiun Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi) dan membunuhi banyak tokoh agama, TNI sudah dilumpuhkan oleh PKI, Pesantren Gontor diliburkan dan santri serta ustadnya hijrah dan menghindar dari kejaran pasukan Muso. KH. Ahmad Sahal (alm) selamat dalam persembunyian di sebuah Gua di pegunungan daerah Mlarak. Gua tersebut kini disebut dengan Gua Ahmad Sahal. Kegiatan Pendidikan Pesantren dilanjutkan
kembali setelah kondisi normal.

Pandangan Modern KH Ahmad Sahal, sebagai Pendiri tertua dari Trimurti dan kedua adiknya yaitu KH. Zainudin Fananie dan KH. Imam Zarkasyi diwujudkan pula dalam menyekolahkan putra-putrinya selain di sekolah agama (pesantren) juga di sekolah umum. Drs. H. Ali Syaifullah Sahal (alm) alumni Filsafat UGM dan sebuah Universitas di Australia, dosen di IKIP Malang; Dra. Hj. Rukayah Sahal dosen IKIP (UMJ) Jakarta dll.

Dan tentu menjadi bahan pemikiran anggota Badan Wakaf saat ini untukmewujudkan Pesantren Gontor menjadi semacam Universitas Al Azhar di Mesir, sebuah universtas yang memiliki berbagai bidang kajian (Agama serta Ilmu dan Teknologi) berbasis Islam.

Pada tahun 1994, didirikan pondok khusus putri untuk tingkat KMI dan pendidikan tinggi yang khusus menerima alumni KMI. Pondok khusus putri ini menempati tanah wakaf seluas 187 hektar. Terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kini, pondok khusus putri memiliki empat cabang, tiga cabang berlokasi di Ngawi dan satu cabang di Sulawesi Tenggara.

Hingga kini Gontor telah memiliki 10 cabang yang terdiri dari 13 kampus di seluruh Indonesia dan santri/ santriwatinya mencapai 14.273 orang. Tidak seperti pesantren pada umumnya, para pengajarnya pun
berdasi dan bercelana panjang pantalon.

SEJARAH PONOROGO


•  BATHORO KATONG MENDIRIKAN KADIPATEN

Menurut Babad Ponorogo (Purwowidjoyo;1997), setelah Raden Katong sampai di wilayah Wengker, lalu memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman ( yaitu di dusun Plampitan Kelurahan Setono Kecamatan Jenangan sekarang). Melalui situasi dan kondisi yang penuh dengan hambatan, tantangan, yang datang silih berganti, Raden Katong, Selo Aji, dan Ki Ageng Mirah beserta pengikutnya terus berupaya mendirikan pemukiman. Sekitar 1482 M eng konsulidasi wilayah mulai di lakukan.
Tahun 1482 – 1486 M, untuk mencapai tujuan menegakkan perjuangan dengan menyusun kekuatan, sedikit demi sedikit kesulitan tersebut dapat teratasi, pendekatan kekeluargaan dengan Ki Ageng Kutu dan seluruh pendukungnya ketika itu mulai membuahkan hasil.
Dengan persiapan dalam rangka merintis mendirikan kadipaten didukung semua pihak, Bathoro Katong (Raden Katong) dapat mendirikan Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV, dan ia menjadi adipati yang pertama.

•  SEJARAH BERDIRINYA

Kadipaten Ponorogo berdiri pada tanggal 11 Agustus 1496 Masehi, tanggal inilah yang kemudian di tetapkan sebagai hari jadi kota Ponorogo. Penetapan tanggal ini merupakan kajian mendalam atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala di daerah Ponorogo dan sekitarnya, juga mengacu pada buku Hand book of Oriental History, sehingga dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo. Bathoro Katong adalah pendiri Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo.

•  ASAL – USUL NAMA PONOROGO

Mengutip buku Babad Ponorogo karya Poerwowidjojo (1997). Diceritakan, bahwa asal-usul nama Ponorogo bermula dari kesepakatan dalam musyawarah bersama Raden Bathoro Katong, Kyai Mirah, Selo Aji dan Joyodipo pada hari Jum'at saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah katongan sekarang). Didalam musyawarah tersebut di sepakati bahwa kota yang akan didirikan dinamakan “Pramana Raga”yang akhirnya lama-kelamaan berubah menjadi Ponorogo.
Pramana Raga terdiri dari dua kata: Pramana yang berarti daya kekuatan, rahasia hidup, permono, wadi sedangkan Raga berarti badan,j asmani. Kedua kata tersebut dapat ditafsirkan bahwa dibalik badan, wadak manusia tersimpan suatu rahasia hidup(wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-sifat amarah, aluwamah, shufiah dan muthmainah. Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan mnempatkan diri dimanapun dan kapanpun berada.




 Asal usul kata Ponorogo berdasarkan babad legenda berasal dari Pramana Raga . Menurut cerita rakyat yang berkembang secara lisan Pono berarti Wasis , Pinter, Mumpuni dan Raga artinya Jasmani yang kemudian menjadi Ponorogo .

Awal mula berdirinya Kadipaten Ponorogo dimulai ketika Raden Katong sampai diwilayah Wengker , kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman yaitu di dusun plampitan Kelurahan Setono Kec.Jenangan.

Siapakah Bethoro Katong ? dari catatan sejarah Ki Padmosusastro generasi 126 menyebutkan Bathoro Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau
disebut juga Raden Harak Kali. Beliau adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari garwo pangrambe ( selir yang tinggi kedudukannya ) .

Bethoro Katong adalah adik lain ibu dengan Raden Patah Setelah menjadi Adipati di Ponorogo bergelar Adipati Bethoro Katong.

Kebesaran Wengker pada jaman Mojopahit ditandai dengan adanya prasasti berupa sepasang batu gilang yang terdapat didepan gapura kelima di kompleks makam Batoro Katong dimana pada batu gilang tersebut tertulis candrasengkala memet berupa gambar manusia, pohon, burung ( Garuda ) dan gajah yang melambangkan angka 1.418 Saka atau tahun 1.496 M.

Batu gilang itu berfungsi sebagai prasasti Penobatan yang dianggap suci .Atas
dasar bukti peninggalan benda - benda pubakala tersebut dengan menggunakan referensi Handbook of Oriental History dapat ditemukan hari wisuda Batoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo , pada hari Ahad Pon Tanggal 1 Bulan Besar , Tahun 1.418 Saka bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1.496 M atau 1 Dzulhijjah 901 H.

Selanjutnya melalui seminar hari jadi Kab.Ponorogo yang diselenggarakan pada tgl.30 April 1996 maka penetapan tgl.11 Agustus sebagai Hari Jadi Kab.Ponorogo telah mendapat persetujuan DPRD Kab.Ponorogo .

Sejak berdirinya Kadipaten Ponorogo dibawah Raden Katong , tata pemerintahan menjadi stabil dan pada th.1.837 M Kadipaten Ponorogo pindah dari Kota Lama ke
Kota Tengah menjadi Kabupaten Ponorogo hingga sekarang .

Nama - nama Bupati yang pernah menjabat di Kab.Ponorogo :

R.MUHAMMAD 1951 - 1955

R.MAHMOED 1955 - 1958

RM.HARYOGI 1958 - 1960

R.DASOEKI 1960 - 1967

R.SOEJOSO 1967 - 1968

R.SOEDHONO SOEKIRJO 1968 - 1974

SOEMADI 1974 - 1979

SOEMADI 1979 - 1984

DRS.SOEBARKAH POETRO HADIWIRYO 1984 - 1989

DRS.GATOT SOEMANI 1989 - 1994

PROF.DR.MARKOEM SINGODIMEDJO 1994 - 1999

PROF.DR.MARKOEM SINGODIMEDJO 1999 - 2004

MURYANTO 2004 - 2005


MUHADI 2005 - 2010

H. AMIN 2010 - 2015

Ritual 1 Muharram Masyarakat Ponorogo

Pintu Gerbang Makam Batoro Katong

 










1. Ritual Batara Kathong
Sesungguhnya, ada dua jenis upacara ritual yang dijadikan sentra kegiatan grebegsuro di Kabupaten Ponorogo. Pertama adalah ritual yang dilakukan di makam Batara Kathong dan yang kedua adalah dilakukan di telaga Ngebal. Keduanya, diselenggarakan saat kegiatan grebegsoro sudah mencapai puncaknya.
Makam Batoro Katong












Upacara ritual di makam Batara Kathong tak lebih merupakan prosesi mengenang sejarah Kabupaten Ponorogo yang keberadaannya tidak bisa dilepas dari tokoh tersebut. Setiap tanggal 1 Muharam Suro, kota Ponorogo diselenggarakan Grebeg Suro yang juga merupakan hari lahir Kota Ponorogo. Dalam even Grebeg Suro ini diadakan Kirab Pusaka yang biasa diselenggarakan sehari sebelum tanggal 1 Muharram. Pusaka peninggalan pemimpin Ponorogo jaman dulu, saat masih dalam masa Kerajaan Wengker, diarak bersama pawai pelajar dan pejabat pemerintahan di Kabupaten Ponorogo, dari Makam Batoro Katong (pendiri Ponorogo) di daerah Pasar Pon sebagai kota lama, ke Pendopo Kabupaten, konon senjata tersebut disucikan atau dibersihkan terlebih dahulu untuk menghormati leluhur, bahkan bukan hanya senjata tersebut yang harus dibersihkan tetapi masyarakat pada umumnya mempercayai kekeramatan hari tersebut untuk menambah ilmu-ilmu kebatinan yang mereka anut maupun benda-benda pusaka yang mereka miliki harus dibersihkan pula. Menurut Dodik Sri Suryadi, pemimpin jalannya upacara sekaligus Ketua Paranormal Kabupaten Ponorogo, Batara Kathong alias Lembu Kanigorodiya kini sebagai putera Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir) dari Majapahit yang diminta memerangi kerajaan Wengker agar tunduk pada kerajaan. Singkatnya, setelah melalui peperangan yang dasyat, Wengker pun dapat ditundukkan. Dan untuk menandainya dipindahlah pusat kekuasaan dari kota wetan (timur) menuju kota tengah atau pusat pemerintahan sekarang. Sementara berdasarkan catatan arkeologis dari batu gilang tercatat bahwa Ponorogo berdiri sejak 11 Agustus 1496 M yang digambarkan dalam candra seng kalamemet, berwujud gambar: manusia, pohon, burung garuda dan gajah, yang berarti angka 1418 saka.

2. Ritual Telaga Ngebel

Sementara upacara pada ritual di Telaga Ngebel, yang diselenggarakan esok harinya, menurut humas kegiatan Wiwik, berupa larung sesaji yang dilakukan pada pagi hari, ditandai dengan membuang berbagai macam sesaji di tengah danau. Upacara yang sudah ada jauh sebelum masyarakat Ponorogo mengenal peradaban maju tersebut kini tetap dipelihara dan dipertahankan dengan cara digarap sesuai dengan kebutuhan pariwisata. Namun demikian, seluruhnya tetap diupayakan tidak mengurangi hal-hal yang bersifat transcendental sebagai perwujutan menjaga kemurniantardisi.
Asal muasal dari Telaga Ngebel sendiri berasal dari cerita yang berkembang di masyarakat, Telaga Ngebel mempunyaiceritaunik yang didasarkan pada kisah seekor ular naga bernama “Baru Klinting”. Sang Ular ketika bermeditasi secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan.Secara ajaib sang ular menjelma menjadi anak kecil yang mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.
Namun tak seorangpun berhasil mencabutnya. Lantas dia sendirilah yang berhasil mencabut lidi itu. Dari lubang bekas lidi tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk Telaga Ngebel. Legenda Telaga Ngebel, terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon salah seorang pendiri Kabupaten ini yakni Batoro Kantong. Sebelum melakukan syiar Islam di Kabupaten Ponorogo, Batoro menyucikan diri terlebih dahulu di mata air, yang ada di dekat Telaga Ngebel yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.

Sebuah ritual tahunan disebuah telaga yang dipercaya sering mengambil korban jiwa.
Perjalanan berliku mengelilingi gunung dan buki tmerupakan suasana yang menyegarkan. Indahnya alam di Ngebel semakin lengkap bila memandang telaganya. Inilah Telaga Ngebel. Tapi siapa sangka, telaga indah ini punya citra angker bagi warga setempat entah sudah berapa banyak orang yang tenggelama di sini.
Perahurekreasi yang dulu pernah ada kerap tenggelam dan rusak saat melintas itelaga. Mau tidak mau, sejumlah peristiwa itu semakin menguatkan angkernya sang telaga. Ingin tahu lebih lengkap, seperti apa yang dikatakan Mbah Budiharjo yang tinggal di tepi telaga. Warga setempat menyapanya. Mbah Budi adalah penduduk asli Ngebel yang dianggap tahu banyak mengenai mitos di Telaga Ngebel.
Konon, telaga ini muncul sebagai ekses kemarahan seorang pemuda miskin bernama Baru Klinting yang sering diejek penduduk sekitar yang arogan. Klinting sendiri sebetulnya manusia jelmaan seekor naga yang dibunuh warga setempat untuk konsumsi pesta rakyat.Kedatangan Klinting yang seperti pengemis memicu kemarahan warga yang jijik melihat penampilan sang pemuda. Hanya Nyai Latung yang berbaik hati padanya. Sang pengemis pun marah dengan kesaktiannya ia menenggelamkan seluruh desa. Hanya Nyai Latung yang selamat.Air bah itulah yang kini dikenal sebagai Telaga Ngebel. Sejakitu pula, beragam bencana dan musibah terus-terusan mendera Ngebel.Dari mulai musim paceklik, gagal panen hingga wabah penyakit,dan beencana yang selaludatanghinggakini.
Ada 4 lokasi keramat yang sering diberi sesaji oleh masyarakat. Diantaranya Gua Kumambang yang sekarang terendam air dan Gua Nyai Latung serta Bebong.Mitos Ngebel juga terkait dengan sesepuh Reog Ponorogo Raden Batoro Katong.Ketempat petilasannya inilah sekarang Kami menuju.Batoro Katong yang merupakanputra Raja Brawijayake V pernah bersembunyi dari kejaran musuh dan bertapa disalah satu gua yang ada di tepi telaga.Tempat Batoro Katong singgah pun jadi keramat. Bahkan bila salah satu warga Ngebel punya keinginan tertentu, ia melakukan tirakatan dan member sesaji di tempatini. Bila malam Jumat tiba, Telaga Ngebel ramai oleh beragam sesaji dari mereka yang percaya.Puncaknya adalah saat malam 1 Suro.
Sagun Yang Tangguh

Pagi menjelang malam 1 Suro saat udara sedingin es, warga Ngebel mengadakan upacara qurban. Seekor kambing dengan bulu warna putih tidak putus melingkar bagian tengah tubuhnya atau yang disebut dengan kambing keditakan disembelih.Darah kambing yang ditampung di kain putih ini dihanyutkan kemuara telaga. Sang kepala akan dilarung ketelaga saat malam dan kaki kambing akan ditanam di empat tempat keramat.
Sementara itu seorang warga bernama Sagun akan mengemban tugas penting. Ialah pembawa sesaji ketengah telaga dalam ritual yang akan berlangsung di malam tersebut. Konon, tidak sembarang orang bisa membawa dan berenang menghayutkan sesaji ketengah telaga.Sagun sendiri mengaku tidak punya ilmu penangkal apapun selain mahir berenang. Lelaki tiga anak ini sehari-harinya bekerja sebagai pengawas pengairan di Ngebel. Bila ada orang yang tenggelam di Ngebel, biasanya Sagun yang diminta mencari.Tak heran ia terus dipercaya sebagai pembawa larungan sesaji.
Malam 1 Suro, Larung sesaji akan diberikan pada hari tersebut. Disepanjang jalan menuju Telaga Ngebel, warga memasang obor sebagai penerangan jalan.Tradisi menyalakan obor saat malam 1 Suro ini sudah berlangsung lama. Menambah suasana mistis yang sudah terasa sejak pagi. Di aula kecamatan tempat larung akan dimulai. Sekitar 40 sesepuh dan dukun Ngebel berkumpul di aula kecamatan.Mereka akan tirakatan. Dalam acara ini, sejenis mantra Jawa kuno dibaca bersama-sama.Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan tradisi larung saji di Ngebel ini berlangsung. Yang jelas, sang telaga seperti tak jera meminta korban jiwa. Seusai tirakatan, saatnya menuju danau. Penerangan yang digunakan seadanya menambah aroma gaib di tempat ini. Apalagi udara sangat dingin. Tapi semua itu tidak menyurutkan langkah para sesepuh untuk mengelilingi danau unuk menanam 4 potongan kaki di tempat-tempat keramat. Dalam waktu hampir bersamaan, upacara larung sesaji segera dimulai. Potongan kepala kambing yang sudah dimasak dijadikan sesaji, dihanyutkan ketengah telaga dibawa oleh Sagun sang pembawa. Malam yang gelap membuat pandangan ketengah telaga tidak begitu jelas.Semua yang hadir di malam itu menanti kepulangan Sagun. Sagun memang tangguh, tak lama ia pun kembali. Padahal selain ada kisah angker yang membayangi, air di telaga sungguh amat dingin. Usai larung sesaji kembali diadakan doa bersama sebagai ungkapan syukur. Besok pagi akan digelar kembali larung sesaji, tapi dengan nuansa berbeda.

Mengapa Ada LarungLagi

Pagi hari 1 Suro atau 1 Muharam larungan kembali digelar. Tapi yang ini lebih sebagai modifikasi yangdilakukan pihak pemerintah daerah setempat. Dalam perkembangannya, larung sesaji yang penuh aroma gaib memang menjadi kontroversi di masyarakat Ponorogo.
Sebagai kota santri yang hampir seluruh penduduknya pemeluk Islam, larung sesaji dianggap tidak relevan dengan ajaran Islam. Tapi disisi lain, larung sesaji sudah jadi tradisi yang melekat pada warga setempat. Pemerintah Daerah setempat kemudian berinisiatif memodifikasinya dengan larung berisalah doa. Ini juga sebagai salah satu upaya Pemda untuk menarik wisatawan dating ke Ngebel. Karena Ngebel yang kaya potensi wisatanya ini jarang jadi tempat tujuan wisata. Kebanyakan sudah ketakutan dulu bila mendengar mitos Ngebel. Kalau melihat jumlah pengunjung yang dating menyaksikan larungan pagi tersebut, upaya itu cukup berhasil. Dari sisi prosesi, larung risalah mirip dengan larung sesaji yang dilakukan malam hari. Perbedaannya ada pada jenis sesaji dan doa. Pada larung risalah ini ukuran sesajinya jauh lebih besar. Terbuat dari beras dan bahan makanan lainnya.
Nuansanya pun tidak seperti tadi malam. Mungkin karena yang hadir saat ini jauh lebih banyak. Bahkan pengunjung bisa ikut naik ke atas perahu mengiringi sang pembawa sesaji.
Dalam larung risalah, sesajian ini diperuntukan bagi hewan penghuni telaga seperti ikan. Selain sesaji, ikut ditenggelamkan juga kota berisi doa keselamatan ke dasar telaga. Tujuannya meminta keselamatan dan perlindungan Tuhan.
Seiring dengan tenggelamnya sesaji, usai sudah ritual tahunan di Ngebel. Tak lama lagi telaga ini akan kembali tenang bisa jadi kembali ditakuti. Tapi mungkin, mitos ini jugalah yang melindungi keberadaan Telaga Ngebel yang keindahannya terjaga hingga kini.

 
Ciptaan e Jagal Abilowo Blog e Jagal Abilowo - Jagal Abilowo | Jagal Abilowo